Sindrom Asperger Yang Wajib Diwaspadai Para Orangtua

Link Banner

Proses tumbuh kembang sang buah hati yang berlangsung sempurna tentu menjadi prioritas utama bagi para orangtua, namun kesehatan yang perlu diperhatikan terkadang tidak hanya terkait dengan kesehatan fisik namun juga mental. Belakangan ini di seluruh dunia bahkan di Indonesia sendiri, sindrom Asperger mulai menjadi sorotan para pakar kesehatan, karena jumlah kasusnya cukup banyak di kalangan anak-anak dengan berbagai sebab. Sindrom Asperger adalah suatu gangguan neurotransmitter dimana penderitanya akan mengalami gangguan dalam hal berkomunikasi maupun bersosialisasi dengan lingkungan. Dari berbagai kasus yang ditemui di Indonesia, kebanyakan anak yang menderita penyakit Asperger adalah anak laki-laki dengan rentang usia 18 bulan hingga 6 tahun. Penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:

Sindrom Asperger Yang Wajib Diwaspadai Para Orangtua

1. Faktor psikologis

Ketika ada seorang anak yang mulai menunjukkan gejala seperti kurang mampu fokus, tidak mampu mengekspresikan diri dengan baik, dan lainnya, perlakuan orangtua yang acuh tak acuh secara tidak langsung akan membentuk rasa tidak puas anak yang mengakibatkan respon motorik tubuh tidak terarah. Hal tersebut kadang bisa menjadi lebih serius ketika orangtua yang bersangkutan tidak memberi kasih sayang yang cukup untuk perkembangan anak.

2. Faktor fisiologis

Faktor yang satu ini lebih mengarah pada kemunculan sindrom Asperger akibat penyakit lain yang sudah dialami sebelumnya dan mengakibatkan ketidakseimbangan proses transmisi sinyal dalam otak. Abnormalitas pengiriman sinyal dalam tubuh akan menyebabkan anak yang bersangkutan kehilangan kemampuannya untuk mengembangkan saraf motorik maupun respon pada perintah.

Baca Juga  Kandungan Gizi dan Manfaat Buah Naga Bagi Kesehatan

3. Faktor sosiologis

Meski masih jarang, sindrom Asperger secara tidak langsung juga dapat dipengaruhi dari kondisi di lingkungan sosial tempat sang anak tinggal. Sebagai contoh ada anak yang karena kedua orangtuanya bekerja, pada akhirnya hanya diberi perhatian dengan pembebasan pemakaian gadget selama 24 jam. Ketika sang anak sudah mulai terobsesi pada materi yang ada pada gadget tersebut, lama kelamaan anak yang bersangkutan akan kehilangan interaksi dengan orang di sekitarnya sehingga dampak lain yang mulai terjadi adalah perkembangan saraf motoriknya terhambat dan sang anak mulai mengalami keterlambatan dalam banyak hal.

Berbagai penyebab diatas perlu diseimbangkan dengan pemahaman gejala yang dapat terlihat pada seorang anak penderita Asperger seperti:

  • Kepribadian yang eksentrik dan gangguan interaksi sosial. Seorang anak Asperger tidak akan mudah memahami emosi sehingga yang bersangkutan cenderung asyik dengan dunianya sendiri, tak jarang Anda akan menjumpai anak yang berbicara sendiri karena larut dalam imajinasi yang dibangunnya tanpa mempedulikan sekitar.
  • Ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan kondisi di sekitar. Kebanyakan anak Asperger akan menunjukkan reaksi datar pada setiap pembicaraan yang didengarnya, karena ketidakmampuan mereka dalam merespon emosi yang ada seperti ketika ada orang lain sedang menangis atau tertawa, tak jarang Anda akan menjumpai anak penderita Asperger hanya diam saja.
  • Kehilangan kontak mata. Satu gejala yang langsung terlihat pada anak penderita Asperger adalah ketidakmampuan dan keengganan anak tersebut untuk melakukan kontak mata dengan lawan bicaranya. Sang anak akan cenderung menatap kebawah atau arah lain saat sedang diajak bicara.
  • Kesulitan bergaul. Pola pikir anak penderita Asperger umumnya masih normal hanya saja pemikiran tersebut tetap dirasa jauh dari pemikiran teman sebayanya, itu sebabnya anak dengan sindrom Asperger terkadang berakhir menjadi korban bully atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Baca Juga  Fungsi, Penyebab, Jenis-jenis dan Cara Menurunkan Kolesterol

Terkait berbagai gejala diatas, jika Anda ingin menangani anak dengan sindrom Asperger, satu hal yang harus Anda tekankan adalah penerimaan pasien secara psikologis maupun sosial. Seperti contoh pada kasus seorang anak 14 tahun asal Inggris bernama Ryan Wiggins, setiap bangun tidur anak tersebut selalu bertanya hal yang sama pada orangtuanya, apakah suatu hari nanti dirinya bisa bangun dari tempat tidur tanpa rasa takut akan dibully teman-temannya. Hal tersebut menjadi pertanyaan Ryan, karena setiap dia ke sekolah, dia akan berakhir dengan ejekan maupun kekerasan  dari teman-temannya yang tidak mampu menerima kekurangan Ryan dalam bersosialisasi. Terkait hal tersebut, orangtuanya akhirnya selalu memberikan pengertian pada Ryan untuk menghadapi situasi yang terjadi dengan dukungan moral penuh.

Link Banner
Sindrom Asperger Yang Wajib Diwaspadai Para Orangtua | admin | Tags: